Pesisir Bulak akan Jadi Kampung Wisata, Limbah Kerang Masih Jadi Masalah

pantai-kenjeran

Pantai Kenjeran, Surabaya. Foto: surabaya.bisnis.com

Indonesia Bisa – Sebagai calon destinasi wisata yang dikembangkan Pemkot Surabaya, pesisir di Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, masih menyimpan persoalan.

Secara fisik, kawasan di pesisir di utara Kenjeran ini sudah terus dibenahi. Jalan raya hingga infrastruktur terus diperbaiki. Taman-taman bermain sudah tersedia yang lokasinya tak jauh dari Sentra Ikan Bulak (SIB).

Namun, sebagai kampung yang sebagian warganya menggantungkan dari hasil laut tentunya juga tak terlepas dari masalah limbah.

Lurah Kedung Cowek Suradianto mengungkapkan selama ini pihaknya sudah berupaya menggandeng beberapa Perguruan Tinggi Negeri maupun swasta agar bisa membantu mengatasi limbah kulit kerang.

Menurutnya, dalam sehari limbah kulit kerang mencapai 1 truk. Namun, sampah tersebut ditolak serta dilarang dibuang TPA Benowo di Surabaya Barat.

Limbah kulit kerang ini sebenarnya bisa dilebur menjadi pakan ternak. Namun kendalanya, nelayan tak memiliki alat dan permintaan bubuk kerang untuk bahan baku pakan ternak juga kecil.

Akibatnya, para nelayan memilih membuangnya ke laut dan tersebar di bibir pesisir. Tentunya, hal itu sangat membahayakan lingkungan dan keamanan wisatawan bila berkunjung ke Bulak.

“Saya sudah berulang kali mempertanyakan terobosan dan meminta bantuan dari Dinas Pertanian untuk ikut memikirkan limbah kulit kerang ini tapi sampai saat belum ada aksi,” sesal Suradianto pada detikcom, Jumat (25/3/2016).

Padahal, kata Suradianto, pihaknya saat ini sedang berusaha merubah pola pikir warga pesisir untuk peduli lingkungan dengan tidak membuang sampah kulit kerang ke laut.

“Warga sudah membuang sampah ke tempat sampah. Tapi, sama saja kulit kerang tidak bisa dibuang ke TPA. Jujur kami kebingungan, kami menanti solusi dari Dinas Pertanian Kota Surabaya,” ungkapnya.

Ia berharap masalah limbah kulit kerang bisa segera diatasi dan ditemukan solusinya. “Jangan sampai kawasan pesisir yang akan menjadi tujuan wisata baru tapi masalah kulit kerang belum bisa ditangani,” katanya.

Pak lurah tentu pantas khawatir, sebab agenda yang paling dekat adalah kunjungan peserta UN Habitat pada Juli 2016 ke ke kampung pesisir tersebut.

“Dan awal bulan April ini akan digelar Bulak Fest 2016, warga saat ini sudah siap menyambut Bulak sebagai kawasan wisata yang didorong oleh Bu Wali (Tri Rismaharini),” katanya.

Nantinya diperkirakan kawasan Bulak ini akan menjadi ikon baru Kota Surabaya setelah jembatan baru yang melayang di atas laut pesisir Kenjeran diresmikan. Jembatan sepanjang 800 meter itu dilengkapi air mancur menari.

“Jika jembatan diresmikan, kami yakin wisatawan akan mengalir ke desa kami. Kami sudah siap menyambut wisatawan,” katanya. Apalagi, kata dia, di depan Sentra Ikan Bulak juga oleh wali kota akan dibangun patung Suro Boyo setinggi 25 meter, tambahnya.

 

(Indonesia Bisa/Detik.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s