Resume Buku Kudeta Putih

Sumber: Liputan Islam

Sumber: Liputan Islam

Indonesia Bisa — Belakangan ini sering muncul meme di media sosial, foto Soeharto yang tersenyum dan melambaikan tangan dengan tulisan yang berbunyi, “enakan jamanku tho?” Setelah reformasi yang menggulingkan Soeharto dan Orde Baru, apakah bangsa ini lebih baik, atau justru lebih terpuruk?

Soeharto jelas bukan pemimpin yang baik, rekam jejaknya selama memimpin Indonesia dipenuhi dengan bau amis darah, penindasan, korupsi, nepotisme, dan lainnya. Lalu bagaimana Indonesia setelah reformasi?

Syamsul Hadi membeberkan fakta yang sangat mengejutkan, dan mungkin tidak disadari oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Ketika Orde Baru runtuh, amandemen terhadap Undang-Undang diwarnai semangat liberalisasi, deregulasi, privatisasi dalam banyak hal yang memberikan kesempatan bagi kekuatan asing untuk mendominasi ekonomi Indonesia. Misalnya, Peraturan Pemerintah no 29 tahun 1999 meyatakan bahwa pihak asing boleh menguasai 99 persen saham perbankan di Indonesia, yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang paling liberal di sektor perbankan.

Begitu juga dengan sektor migas Indonesia. RUU migas di era reformasi banyak dipengaruhi Letter of Intent antara Indonesia dengan IMF yang diterbitkan pada tahun 1998-2001. IMF meminta pemerintah Indonesia untuk melakukan sejumlah agenda untuk mendapatkan pinjaman dana pemulihan krisis ekonomi. Misalnya, mereformasi harga energi dan reformasi lembaga pengelola energi, termasuk mereduksi peran monopolistik Pertamina. Awalnya, Pertamina terintegrasi dari hulu ke hilir, kini didudukkan pada posisi yang jauh lebih powerless, karena pemerintah meliberalisasi sektor migas dengan membuka selebar-lebarnya investasi bagi swasta, baik asing maupu lokal.

Selain sektor migas , liberalisasi juga terjadi pada sektor pertanian. Dampak umum yang ditimbulkan dari liberalisasi ini adalah kesenjangan antara negara maju dengan negara berkembang, semakin banyaknya petani yang miskin, terancamnya produksi domestik dan ketahanan pangan negara-negara di negara-negara miskin dan berkembang.

Dominasi asing juga terjadi ddalam bisnis ritel di Indonesia. Bidang usaha ini tengah berkembang pesat dan semakin penting dalam perekonomian di Indonesia. Terbukanya jasa perdagangan ritel bagi penanaman modal asing (PMA) dapat dilihat pada Keppres No. 96/ 200, yang kemudian diperbarui dengan Keppres 118/2000. Keppres tersebut mengatur bidang usaha yang tertutup dan bidang usaha yang terbuka bagi modal asing dengan persyaratan tertentu bagi penanam modal.

Kebijakan-kebijakan tersebut telah menyebabkan tidak adanya lagi pembatasan bagi kepemilikan industri ritel. Setiap pelaku usaha yang memiliki modal cukup untuk mendirikan perusahaan ritel di Indonesia dapat segera melakukannya. Akibatnya, usaha ritel kecil pun tersingkir. Padahal ritel kecil ini merupakan tempat untuk menggantungkan hidup bagi sebagian rakyat Indonesia.

Syamsul Hadi menawarkan solusi untuk menghadapi permasalahan ini. Pertama, melakukan perubahan mindset (pola pikir). Para pengambil keputusan dan para akademisi perlu mengadopsi mindset nasionalistik yang lebih berorientasi kepada kepentingan nasional. Solusi lainnya yang disarankan, bisa Anda temukan dengan membaca buku ini.

Judul: Kudeta Putih: Reformasi dan Pelembagaan Kepentingan Asing dalam Ekonomi Indonesia.

Penulis: Syamsul Hadi, dkk.

Tahun Terbit: 2012

Penerbit: Indonesia Berdikari

Tebal: 247 halaman

 

Sumber: Liputan Islam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s